Kepemimpinan
adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya
dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan
adalah "melakukanya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan
pada seorang seniman, ahli pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang
ahli diharapkan sebagai bagian dari perannya memberikan pengajaran/instruksi.
A. Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan membicarakan
bagaimana seorang menjadi pemimpin; atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin.
Ada beberapa teori tentang kepemimpinan, diantaranya ialah:
1. Teori Kelebihan, teori ini beranggapan
bahwa seseorang akan menjadi pemimpin apabila ia memiliki kelebihan dari para
pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
mencakup 3 (tiga) hal, yaitu:
a. Kelebihan ratio: ialah kelebihan dalam
menggunakan pikiran, kelebihan dalam pengetahuan tentang hakikat tujuan dari
organisasi, dan kelebihan dalam memiliki pengetahuan tentang cara-cara
menggerakkan organisasi, serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan
tepat. Dengan kelebihan ratio diharapkan seorang pemimpin mampu mengatasi
segala macam persoalan yang dihadapi oleh organisasi. Pimpinan merupakan
tumpuan dari para pengikutnya.
b. Kelebihan rohaniah: berarti seorang
pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada para bawahan.
Seorang pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada dasarnya
pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan, perbuatan, sikap
dan ucapan hendaknya menjadi suri teladan bagi para pengikutnya.
c. Kelebihan badaniah: berarti seorang
pemimpinan hendaknya memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari para
pengikutnya sehingga memungkinkan untuk bertindak dengan cepat. Akan tetapi
masalah kelebihan badaniah ini dapat kita ambil contoh, misalnya kepemimpinan
Panglima Besar Jendral Soedirman, pada jaman revolusi. Meskipun dalam keadaan
sakit, beliau mampu memimpin perang gerilya dan ia sangat disegani. Hal ini
disebabkan oleh karena kewibawaannya dalam memimpin anak buahnya.
Teori
Sifat
Pada dasarnya teori sifat sama
dengan teori kelebihan. Teori ini menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi
pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang lebih daripada yang
dipimpin yang dipimpin. Di samping memiliki tiga macam kelebihan (ratio,
rohaniah, dan badaniah), hendaknya seorang pemimpin mempunyai sifat-sifat yang
positif sehingga para pengikutnya dapat menjadi pengikut yang baik, dan
memberikan dukungan kepada pemimpinnya. Sifat-sifat kepemimpinan yang umum,
misalnya bersifat adil, suka melindungi, penuh percaya diri, penuh inisiatif,
mempunyai daya tarik, energik, persuasif, komunikatif dan kreatif.
Di masa sekarang, di samping harus
memiliki sifat-sifat seperti yang telah diuraikan di atas, pemimpin diharapkan
juga mempunyai sifat mental yang siap membangun. Mukti Ali (saat masih menjabat
sebagai Menteri Agama RI) menyatakan ada ciri-ciri tertentu dari mental yang
siap membangun, yaitu:
1) Suka bekerja keras
2) Sabar menderita dan menghadapi
kesulitan untuk mencapai tujuan
3) Bersifat terbuka, suka menerima ide-ide
baru karena salah satu sifat dari masyarakat ialah selalu berubah.
4) Mau bekerja sama dengan pihak-pihak lain
(perseorangan, badan-badan atau instansi-instansi) yang mempunyai ide-ide baru
dan baik.
5) Berani melakukan eksperimen. Kalau
tidak berani melakukannya maka tidak akan pernah timbul ide-ide baru.
6) Hemat. Tidak boros.
7) Teliti dalam pekerjaan.
8) Jujur.
9) Bersifat mau berbakti atau mempunyai
dedikasi.
10) Suku rukun, antara lain rukun dalam
hubungan antar agama. Kerukunan adalah salah satu prasyarat bagi pembangunan.
Teori
Keturunan
Teori keturunan disebut juga teori
pembawaan lahir. Ada juga yang menyebut teori genetis. Menurut teori keturunan,
seseorang dapat menjadi pemimpin adalah karena keturunan atau warisan. Karena
orangtuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin menggantikkan
orangtuanya. Hal ini berarti, seolah-olah menjadi pemimpin karena ditakdirkan.
Pada zaman penjajahan Belanda, teori ini sering menjadi kenyataan. Misalnya,
apabila ayahnya menjadi bupati, maka anaknya akan menjadi bupati menggantikan
orangtuanya. Pada abad modern dewasa ini, teori ini hanya terdapat pada
negara-negara yang berbentuk monarki (kerajaan), dimana kedudukan sebagai raja
diperoleh karena warisan atau keturunan.
Teori
Kharismatis
Teori kharismatis menyatakan bahwa
seseorang menjadi pemimpin karena orang tersebut mempunyai kharisma (pengaruh)
yang sangat besar. Kharisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam
hal ini terdapat suatu kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran dari Zat
Tunggal, dari Tuhan Yang Esa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan ghaib
(supranatural power). Pemimpin yang bertipe kharismatis biasanya memiliki daya
tarik, kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. Tokoh-tokoh atau para
pemimpin yang mempunyai tipe kharismatis, misalnya: Panglima Besar Jendral
Sordirman, Ir. Sukarno, John F. Kennedy, Nehru, dan lain-lain.
Teori
Bakat
Teori bakat disebut juga teori
ekologis, yang berpendapat bahwa pemimpin itu lahir karena bakatnya. Ia menjadi
pemimpin karena memang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin. Bakat
kepemimpinan itu harus dikembangkan, misalnya dengan memberi kesempatan orang
tersebut menduduki suatu jabatan.
Teori
Sosial
Teori sosial beranggapan bahwa pada
dasarnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat
untuk menjadi pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik
menjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui
pendidikan formal maupun melalui pengalaman praktek. Yang menjadi masalah
adalah apakah orang yang bersangkutan mendapat kesempatan atau tidak. Banyak
orang yang mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi kesempatan tidak
pernah diberikan kepadanya. Sebaliknya, ada sementara pejabat yang sebenarnya
tidak mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi ia mendapat kesempatan
untuk memimpin. Apabila orang itu dalam menjalankan kepemimpinan tidak mau
mempelajari ilmu kepemimpinan atau ilmu manajemen maka ia akan memperoleh
cara-cara mempengaruhi orang lain dan bagaimana teknik-teknik kepemimpinan yang
baik.
B. Tipe-Tipe Kepemimpinan
Yang
dimaksud dengan tipe kepemimpinan adalah gaya atau corak kepemimpinan yang
dibawakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya
seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya dipengaruhi oleh berbagai
faktor, antara lain faktor pendidikan, faktor pengalaman, faktor usia, dan
faktor karakter, tabiat atau sifat yang ada pada diri pemimpin tersebut. Orang
yang ambisius untuk menguasai setiap situasi, apabila menjadi pemimpin akan
bersifat otoriter. Orang yang mempunyai sifat kebapakan, apabila menjadi
pemimpin akan menjalankan kepemimpinan yang bertipe paternalistik. Pemimpin
yang tidak menguasai bidang tugas yang menjadi wewenangnya akan menyerahkan
segala sesuatunya kepada para bawahan, sehingga gaya kepemimpinannya bersifat
laisser faire.
Dari
berbagai leteratur dapat ditemukan berbagai tipe kepemimpinan, anatara lain:
1) Tipe Otokratis
Otokratis
berasal dari kata otokrat, dari kata autos dan kratos. Autos berarti sendiri,
dan kratos berarti kekuatan atau kekuasaan (power). Jadi kepemimpinan otokratis
adalah kepemimpinan yang mendasarkan kepada suatu kekuasaan, kekuatan yang
melekat pada dirinya. Hal ini berarti seseorang menjadi pemimpin karena
mempunyai kekuatan atau kekuasaan (power).
Ciri-ciri
kepemimpinan yang bertipe otokratis antara lain:
a. Mengandalkan kepada kekuatan
atau kekuasaan yang melekat pada dirinya
b. Menganggap dirinya yang
paling berkuasa (kuasa tunggal)
c. Menganggap dirinya paling mengetahui segala
macam persoalan, orang lain dianggap tidak tahu.
d. Keputusan-keputusan yang diambil secara
sepihak, tidak mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau menerima saran dari
bawahan. Ia bahkan tidak memeberi kesempatan kepada bawahan untuk memberikan
saran, pendapat atau ide.
e. Keras dalam mempertahankan prinsip.
f. Jauh dari para bawahan.
g. Lebih menyukai bawahan yang bersikap
“yesman”, “abs” (asal bapak senang).
h. Perintah-perintah diberikan secara paksa.
i. Pengawasan dilakukan secara ketat agar
perintah benar-benar dilaksanakan.
2) Tipe Laisser Faire
Seperti
telah diuraikan diatas, tipe laisser faire pada umumnya dijalankan oleh
pemimpin yang tidak mempunyai keahlian teknis. Tipe laisser mempunya ciri-ciri
antara lain:
a. Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para
bawahan untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan bidang tugas
masing-masing.
b. Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan
sehingga pemimpin tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok.
c. Semua pekerjaan dan tanggungjawab
dilimpahkan kepada bawahan.
d. Tidak mampu mengadakan koordinasi dan
pengawasan yang baik.
e. Tidak mempunyai wibawa sehingga ia tidak
ditakuti apalagi disegani oleh bawahan.
f. Secara praktis pemimpin tidak menjalankan
kepemimpinan sehingga ia hanya merupakan simbol belaka.
Berdasarkan
ciri-ciri di atas, pemimpin dengan tipe laisser faire bukanlah pemimpin dalam
arti sebenarnya. Seorang pemimpin dengan cara apapun diharapkan dapat
menggerakkan bawahan sehingga tujuan oeganisasi dapat tercapai. Cara yang
terbaik ialah mempengaruhi, bukan dengan menakut-nakuti.
3) Tipe Paternalistik
Tipe
peternalistik adalah tipe kepemimpinan yang bersifat kebapakan. Pemimpin
bertindak sebagai seorang bapak yang selalu memberikan perlindungan kepada para
bawahan dalam batas-batas kewajaran.
Ciri-ciri
tipe paternalistik antara lain:
a. Pemimpin bertidak sebagai seorang bapak.
b. Memperlakukan bawahan sebagai orang
yang belum dewasa.
c. Selalu memberikan perlindungan kepada para
bawahan yang kadang-kadang terlalu berlebihan.
d. Keputusan ada ditangan pemimpin, bukan
karena pemimpin ingin bertindak secara otoriter, tetapi karena keinginan dari
pihak pimpinan yang ingin selalu memberi kemudahan kepada bawahan. Oleh karena
itu para bawahan jarang-jarang bahkan sama sekali tidak memberikan saran kepada
pimpinan. Pihak pimpinanpun jarang meminta saran dari bawahan.
e. Karena keputusan ada ditangan pimpinan, maka
pimpinan menganggap dirinya yang paling mengetahui segala macam persoalan.
4) Tipe Militeristis
Tipe
Militeristis tidak hanya terdapat dikalangan militer saja. Tetapi banyak
pemimpin instansi (non-militer) yang menerapkan kepemimpinan dengan tipe
militeristis. Tipe militeristis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Dalam mengadakan komunikasi, lebih banyak
mempergunakan saluran formal.
b. Dalam menggerakkan bawahan lebih banyak
menggunakan sistem komando/perintah, baik perintah itu secara lisan maupun
secara tertulis.
c. Segala sesuatu bersifat formal
d. Disiplin yang tinggi, kadang-kadang bersifat
kaku.
e. Karena segala sesuatunya melalui perintah,
maka komunikasi hanya berlangsung satu arah sehingga bawahan tidak diberi
kesmpatan untuk mengemukakan pendapat.
f. Pimpinan menghendaki bawahan tidak diberi
kesempatan untuk mengemukakan pendapat.
g. Pimpinan menghendaki bawahan patuh terhadap
semua perintah yang diberikannya.
5) Tipe Demokratis
Tipe
demokratis jauh berbeda dengan tipe-tipe yang telah kita bicarakan. Pemimpin
yang bertipe demokratis selalu berada di tengah-tengah para bawahan sehingga ia
terlibat dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
Kepemimpinan
dengan tipe demokratis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan
organisasi.
b. Bersifat terbuka.
c. Bawahan diberi kesempatan untuk memberikan
saran-saran, ide-ide baru
d. Dalam mengambil keputusan lebih mengutamakan
musyawarah untuk mufakat, daripada keputusan yang bersifat sepihak. Apabila
musyawarah untuk mufakat tidak berhasil maka ditempuh dengan jalan lain yang
sesuai dengan alam demokratis, misalnya secara votimg.
e. Menghargai potensi setiap individu.
f. Berlangsung dengan mantap. Kemantapan
kepemimpinan demokratis dapat dilihat dalam hal-hal sebagai berikut:
· Unit-unit organisasi berjalan
lancar, melakukan kegiatan sesuai dengan fungsi masing-masing.
· Otoritas didelegasikan kepada para
bawahan.
· Bawahan merasa senang, aman,
tentram.
· Semangat kerja bawahan tinggi, baik
ada pimpinan maupun tidak ada pimpinan.
g. Pimpinan sering turba (turun ke bawah)
melakukan pembinaan dan penyuluhan, yang sekaligus melakukan pengamatan
terhadap hasil yang telah dicapai, serta kelemahan-kelemahan atau kekurangan
dan kesulitan yang dihadapi para bawahan.
6) Tipe Open Leadership
Sebenarnya
tipe open leadership hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya hanya terletak
dalam hal pengambilan keputusan. Tipe demokratis lebih mengutamakan musyawarah
untuk mufakat sehingga musyawarah dijadikan dasar keputusan. Hasil musyawarah
menjadi keputusan pimpinan. Dalam hal ini berbeda dengan tipe open leadership.
Pimpinan memang memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk memeberikan
saran, tetapi keputusan tetap ada ditangan pimpinan.
C. Syarat-Syarat Kepemimpinan
Syarat-syarat
kepemimpinan dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: (1) persyaratan
kepemimpinan pada umumnya, (2) persyaratan kepemimpinan khusus yang berhubungan
dengan ciri khas masyarakat atau negara, (3) persyaratan kepemimpinan khusus
yang berhubungan dengan jenis kegiatan atau pekerjaan.
1) Persyaratan Kepemimpinan Pada Umumnya
Yang
dimaksud dengan persyaratan kepemimpinan pada umumnya adalah persyaratan
kepemimpinan yang berlaku bagi pemimpin apa saja. Persyaratan kepemimpinan umum
meliputi hal-hal sebagai berikut:
· Sehat jasmaniah maupun rohaniah
(fisik maupun mental)
· Bertanggungjawab dan obyektif dalam
sikap, tindakan dan perbuatan. Adil terhadap yang dipimpin.
· Jujur, yang meliputi :
a. Jujur terhadap diri sendiri,
b. Jujur terhadap atasan,
c. Jujur terhadap bawahan, dan
d. Jujur terhadap sesama pegawai.
· Suka melindungi,
· Semangat untuk mencapai tujuan,
· Cerdas
· Percaya pada diri sendiri,
· Mudah dan cepat dalam mengambil
keputusan,
· Memiliki kecakapan teknis,
· Mempunyai daya tarik,
· Berwibawa.
2) Persyaratan Khusus dalam Hubungannya
dengan Ciri-ciri Khusus Masyarakat
Ciri-ciri
khusus masyarakat Indonesia adalah yang berhubungan dengan dasar negara, yaitu
Pancasila. Hal ini berarti kepemimpinan Indonesia harus berlandaskan kepada
falsafah Pancasila. Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila.
Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila berisikan azas-azas sebagai
berikut:
· Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu
kesadaran akan beragama dan beriman yang teguh.
· Hing Ngarsa Sung Tulada, Hing Madya
Mangun Karsa, Tutwuri Handayani, yang artinya:
o Hing Ngarsa (di depan), Tulada (teladan,
contoh), yang berarti seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakat harus mampu
memberi contoh, memberi teladan yang baik kepada para bawahan/pengikut.
o Hing Madya (di tengah-tengah), Mangun Karsa
(membangun semangat). Seorang pemimpin harus senantiasa ada ditengah-tengah
para pengikutnya dan mampu membangkitkan semangat para bawahan.
o Tut Wuri (dari belakang), Handayani
(memberikan dorongan, memberikan pengaruh), yang berarti seorang pemimpin dari
belakang ia harus mampu memberikan dorongan, memberikan pengaruh yang baik
kepada para bawahan.
Falsafah
tersebut memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak harus senantiasa ada
di belakang terus-menerus, tetapi juga di depan, dan ada ditengah-tengah para
bawahan/masyarakat. Dengan cara demikian maka pemimpin benar-benar menyatu
dengan para bawahan/pengikut dalam keadaan atau situasi yang bagaimanapun.
· Waspada Purbawisesa. Artinya:
waspada (berawas-awas dan berjaga, tidak lengah), dan Purbawisesa (kekuasaan
sepenuh-penuhnya). Jadi seorang pemimpin dalam menjalankan kekuasaannya harus
selalu waspada, hati-hati, mau dan mampu mengoreksi diri sendiri dan orang lain
(bawahan).
· Ambeg Parameta. Mendahulukan mana
yang dianggap lebih penting. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus
pandai memilih dan menetapkan berbagai macam masalah, dan dari sekian masalah
itu mana yang harus didahulukan untuk mendapat penyelesaian.
· Prasaja. Artinya sederhana. Hal ini
berarti bahwa seorang pemimpin harus bersifat sederhana, tidak
berlebihan-lebihan, sederhana dalam tingkah laku.
· Satya, yang artinya setia atau
loyal. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus loyal kepada bawahan,
pimpinan dengan pimpinan, atasan yang bersangkutan, dan kepada organisasi yang
dipimpinnya. Loyal kepada organisasi yang dipimpin berarti harus berusaha untuk
mengembangkan, memajukan, mengamankan dari segala macam rongrongan yang datang
dari segenap penjuru, baik yang dilakukan perorangan maupun kelompok
· Hemat, berarti tidak boros. Pemimpin
harus mempergunakan dana yang tersedia seefesien dan seefektif mungkin. Ia
harus mampu membatasi penggunaan dana sesuai dengan kebutuhan yang benar-benar
penting.
· Terbuka, yang berarti pemimpin harus
bersedia menerima saran atau kritik yang membangun dari semua pihak. Ia juga
harus berani mempertanggungjawabkan semua tindakannya secara terbuka.
· Penerusan, yang berarti seorang
pemimpin harus mempunyai kesadaraan, kerelaan, dan kemauan untuk menyerahkan
tugas dan tanggungjawab kepasa generasi penerusan untuk melanjutkan dan
mewujudkan cita-cita yang ditentukan. Untuk itu seorang pemimpin harus mampu
menyiapkan dan menciptakan kader-kader penerus berkualitas dan dapat
diandalkan.
3) Persyaratan Khusus yang Berhubungan
dengan Jenis Kegiatan atau Pekerjaan
Menurut
jenis kegiatan atau pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab pemimpin,
kepemimpinan dapat dibedakan menjadi kepemimpinan lini (line leadership), dan
kepemimpinan staf (staf leadership). Persyaratan bagi kepemimpinan lini berbeda
dengan persyaratan kepemimpinan staf karena fungsi lini berbeda dengan fungsi
staf. Meskipun demikian ada beberapa persamaan persyaratan yang harus dimiliki
oleh kedua jenis pimpinan itu, anatara lain:
· Bersifat ramah tamah, dalam tutur
kata, sikap dan perbuatan.
· Mempunyai intelegensi yang tinggi.
· Sabar, ulet dan tekun dalam menghadapi
masalah.
· Cepat dan tepat dalam mengambil
keputusan.
· Jujur.
· Adil, dan
· Berwibawa.
Persyaratan
khusus bagi kepemimpinan staf akan di jelaskan dalam uraian tentang kepemimpinan
staf.
D. Teknik Kepemimpinan
Yang
dimaksud dengan teknik kepemimpinan ialah dengan cara bagaimana seorang
pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinannya.
Teknik
kepemimpinan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu teknik kepemimpinan secara
umum, dan teknik kepemimpinan khusus. Teknik kepemimpinan secara umum adalah
teknik kepemimpinan yang berlaku bagi setiap pemimpin, sedang teknik
kepemimpinan khusus adalah teknik kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang
pemimpin yang memimpin suatu bidang tertentu. Teknik kepemimpinan khusus akan
dibicarakan lebih lanjut dalam uraian tentang kepemimpinan staf.
Teknik
kepemimpinan pada umumnya terdiri dari: (1) teknik kepengikutan, (2) teknik
human relationship, (3) teknik pemberian teladan, semangat dan dorongan.
1) Teknik Kepengikutan
Teknik
kepengikutan adalah teknik untuk membuat orang-orang suka mengikuti apa yang
menjadi kehendak si pemimpin. Ada beberapa sebab mengapa seseorang mau menjadi
pengikut, yaitu:
· Kepengikutan karena peraturan/hukum
yang berlaku.
· Kepengikutan karena agama.
· Kepengikutan karena tradisi atau
naluri, dan
· Kepengikutan karena rasio.
Teknik kepengikutan dapat
dijalankan dengan penerangan dan propaganda.
a. Teknik Penerangan ialah dengan cara
memberikan fakta-fakta yang objektif. Fakta disebut objektif bila fakta-fakta
itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, jelas sumbernya, dan tidak
bermaksud mengelabuhi para pengikut untuk menutupi kesalahan pemimpin. Supaya
fakta itu jelas dan berguna maka fakta-fakta itu harus disampaikan tepat pada
waktunya dan disajikan dalam bentuk yang dapat dengan mudah dan cepat
dimengerti. Penyajian fakta-fakta yang demikian diharapkan akan dapat
menimbulkan kesadaraan dan kepuasaan di kalangan para bawahan sehingga mereka
kemudian dengan sukarela mengikuti.
b. Teknik Propaganda. Teknik propaganda
berbeda dengan teknik penerangan. Dalam teknik penerangan pemimpin berusaha
untuk memberika pengertian dan kesadaraan kepada para bawahan sehingga mereka
menjadi pengikut berdasarkan atas kesadaraan.
Dalam
propaganda, seseorang menjadi pengikut karena merasa terpaksa dan takut.
Propaganda merupakan suatu cara mengubah pikiran orang lain supaya menjadi
pengikut dengan cara-cara yang bersifat negatif, misalnya dengan intimidasi,
ancaman, menakut-nakuti, dan dengan paksaan.
2) Teknik Human Relationship
Human
relationship merupakan hubungan kemanusiaan yang bertujuan untuk mendapatkan
kepuasan, baik kepuasan jasmaniah. Karena human relations bertujuan untuk
mendapatkan kepuasan, teknik human relations dapat dilakukan dengan memberikan
berbagai macam kebutuhan kepada para bawahan, baik kepuasan psikologis, maupun
kepuasan jasmaniah.
3) Teknik Memberi Teladan, Semangat dan
Dorongan
Dengan
teknik ini seorang pemimpin menempatkan diri sebagai pemberi teladan, pemberi
semangat, dan sebagai pemberi dorongan. Cara ini dapat dilaksanakan apabila
pemimpin berpegangan kepada filsafat: Hing ngarsa sung tulada, hing madya
mangun karsa, tut wuri handayani. Dengan cara demikian diharapkan dapat
memberikan pengertian dan kesadaraan kepada para bawahan sehingga mereka mau
dan suka mengikuti apa yang menjadi kehendak pemimpin.
Sumber ;