Berbicara tentang sesuatu yang disayangi tentunya hal itu
adalah keluarga .Keluarga disini ,keluarga saya mungkin agak sedikit berbeda
dengan yang lainnya. Karena keluarga saya tidak hanya terdiri oleh ayah ,ibu
dan adek atau kakak saja. Karena lagi saya punya 2 ayah dan 2 ibu yang sangat
saya sayangi.Lhah kok serba 2?,pastinya anda sedikit heran bukan?,atau anda
pikir ibu saya atau ayah saya punya 2 istri atau suami, tentu tidak. Jadi
begini yang saya maksud 2ayah dan 2ibu yaitu satu ayah saya adalah ayah kandung,
dan satunya lagi adalah kakek saya begitu pula dengan ibu saya.
Selasa, 12 November 2013
Sabtu, 09 November 2013
Kalimat Efektif (Pengertian ,Ciri-ciri dan Contohnya)
A. PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF
Kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya
secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula.
Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan
gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara
secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan
mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau
pembicaranya.
B. CIRI-CIRI KALIMAT EFEKTIF
Untuk dapat mencapai keefektifan, suatu kalimat harus
memenuhi paling tidak enam syarat berikut, yaitu adanya:
Kalimat Efektif Dan Kalimat Turunan
A.KALIMAT EFEKTIF
Kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya
secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula.
Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan
gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara
secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan
mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau
pembicaranya.
B.KALIMAT TURUNAN
Dalam kajian bahasa dibedakan unsur bahasa yang sederhana
dan unsur yang kompleks. Dalam morfologi terdapat kata sebagai objek kajian
morfologi yang memiliki sifat yang demikian itu yang disebut sebagai kata dasar
atau kata turunan. Kata Dasar merupakan dasar pembentukan kata turunan, kata
turunan merupakan bentukan dari kata dasar.
Pengertian Diksi Dan Contohnya
Diksi
Diksi dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada
pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti
kedua “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata seni berbicara
jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan
ekstrimitas terjauhnya. Arti
kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi daripada pemilihan kata dan
gaya.
• Plilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
• Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
• Plilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
• Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
Minggu, 27 Oktober 2013
Asal Usul Terciptanya Lagu Ninda Milik MyDay
Lagu ini punya cerita
terciptanya lagu ini. Begini awalnya saat itu band kami MyDay berniat mengikuti
festival di JCC dan ketika itu kami punya satu lagu yang kami anggap mampu
booming nantinya kala lagu kami dendangkan .Namun kami merasakan takut akan
membawakan lagu kami itu.Rasa takut kalau nantinya lagu kami didengar orang
kemudian di bajak dan diakuinya. Akhirnya kami pun bingung dan sempat ingin
tidak jadi ikut festival. Tetapi saya teringat akan lagu kakak saya yang sempat
booming di kampung namun tak terkenal itu membuat otak saya bekerja sesaat .Dan
saya pun mendapat ide untuk membawakan lagunya .
Selasa, 22 Oktober 2013
Puisi Tentang Masa Depan buah karya @yoestianforjesz
Mimpikan Masa Depan
Merenungku tanpa kata
Dalam diamku tak bernada
Beranganku akan sejuta impian
Tersentakku pikirkan masa depan
Langkahku dengan beribu pengalaman
Impianku untuk menggapai kesuksesan
Terpautku akan pendar bintang
Mimpiku raih sukses dimasa depan
Read More
karya : yoestian forjesz
Merenungku tanpa kata
Dalam diamku tak bernada
Beranganku akan sejuta impian
Tersentakku pikirkan masa depan
Langkahku dengan beribu pengalaman
Impianku untuk menggapai kesuksesan
Terpautku akan pendar bintang
Mimpiku raih sukses dimasa depan
Wacana Singkat Sesuai Dengan EYD
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa
Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan
sebelumnya, Ejaan Republik. Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah
ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn
dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan
bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah
disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang
Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No.
57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu
Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru
bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Selanjutnya Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul
“Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.
Minggu, 20 Oktober 2013
Artikel Dengan Ragam Bahasa Non Ilmiah
Non Ilmiah (Fiksi) adalah karangan ilmu pengetahuan
yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang
baik dan benar. Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang
berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak
boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik,
klimaks, setting dsb.Bentuk karangan non ilmiah yaitu, dongeng, cerpen, novel,
roman, anekdot, hikayat, cerber, puisi, dan naskah drama.
Contoh Artikel bahasa non ilmiah : Dongeng Cinderella
Artikel Dengan Ragam Bahasa Semi Ilmiah
Semi Ilmiah adalah karangan ilmu pengatahun yang
menyajikan fakta umum dan menurut metodologi panulisan yang baik dan benar,
ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan
didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah
penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan
penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode
ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah.
Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang
masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel,
roman dan cerpen.
Artikel Dengan Ragam Bahasa Ilmiah
Karya ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi
penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan
sistematis-metodis dan menyajikan fakta umum serta ditulis menurut metedologi
penulisan yang benar. Karya ilmiah ditulis dengan bahasa yang konkret, gaya
bahasanya formal, kata-katanya teknis dan dan didukung fakta yang dapat
dibuktikan kebenarannya,
Karya ilmiah mempunyai 3 ciri yaitu:
1. Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (factual objektif). Artinya sesuai dengan objek yang diteliti.
2. Bersifat metodis dan sistematis
3. Menggunakan ragam bahasa ilmiahyang baku dan formal, bahasanya bersifat lugas agar tidak menimbulkan penafsitan dan makna ganda.
Karya ilmiah mempunyai 3 ciri yaitu:
1. Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (factual objektif). Artinya sesuai dengan objek yang diteliti.
2. Bersifat metodis dan sistematis
3. Menggunakan ragam bahasa ilmiahyang baku dan formal, bahasanya bersifat lugas agar tidak menimbulkan penafsitan dan makna ganda.
Senin, 20 Mei 2013
Desain dan Struktur Organisasi
1.
Dimensi struktur organisasi
Kompleksitas
Kompleksitas
merujuk pada tingkat diferensiasi yang ada di dalam sebuah organisasi.
Diferensiasi horisontal mempertimbangkan tingkat pemisahan horisontal di antara
unit-unit. Diferensiasi vertikal merujuk pada kedalaman hierarki organisasi.
Diferensiasi spasial meliputi tingkat sejauh mana lokasi fasilitas dan para
pegawai organisasi tersebar secara geografis. Peningkatan pada masalah satu
dari ketiga faktor tersebut akan meningkatkan kompleksitas sebuah organisasi.
Diferensiasi
horisontal.
Diferensiasi
horisontal merujuk pada tingkat diferensiasi antara unit-unit berdasarkan
orientasi para anggotanya, sifat dari tugas yang meeka laksanakan, dan tingkat
pendidikan serta pelatihannya.·
Diferensiasi
vertikal.Diferensiasi vertikal merujuk pada kedalaman struktur. Diferensiasi
meningkat, demikian pula kompleksitasnya karena jumlah tingkatan hierarki di
dalam organisasi bertambah. Makin banyak tingkatan yang terdapat di antara top
management dan tingkat yang paling rendah, maka makin besar pula potensi
terjadinya distorsi dalam komunikasi, dan makin sulit mengkoordinasi
pengambilan keputusan dari pegawai manajerial, serta makin sukar bagi top
management untuk mengawasi kegiatan bawahannya.
Diferensiasi
spasial.
Diferensiasi
spasial merujuk pada tingkat sejauh mana lokasi dari kantor, pabrik, dan
personalia sebagai sebuah organisasi tersebar secara geografis. Diferensiasi
spasial dapat dilihat sebagai perluasan dari dimensi dan dan diferensiasi
horizontal dan vertikal. Artinya, adalah mungkin untuk memisahkan tugas dan
pusat kekuasaan secara geografis. Pemisahan ini mencakup penyebaran jumlah
maupun jarak.
Formalisasi
Formalisasi
merujuk pada tingkat sejauh mana pekerjaan di dalam organisasi itu
distandardisasikan. Jika formalisasi rendah, perilaku para pegawai relatif
tidak terprogram. Karena kebijakan dari seseorang di dalam pekerjaannya
berbanding terbalik dengan jumlah perilaku yang diprogramkan lebih dahulu oleh
organisasi, maka makin besar standardisasi, makin sedikit pula jumlah masukan
mengenai bagaiman suatu pekerjaan harus dilakukan oleh seorang pegawai.
Standardisasi bukan hanya menghilangkan kemungkinan para pegawai untuk
berperilaku secar lain, tetapi juag menghilangkan kebutuhan bagi para pegawai
untuk mempertimbangkan aternatif.
SentralisasiSentralisasi
adalah yang paling problematis dari ketiga komponen. Sentralisasi dinyatakan
sebagai sejauh mana kekuasaan formal dapat membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan
dikonsentrasikan pada satu individu, sebuah unit, atau suatu tingkat (biasanya
pada tingkat tinggi dalam organisasi), dengan demikian pegawai (biasanya berada
di bagian bawah organisasi) hanya memperoleh masukan yang minim dalam pekerjaan
mereka. Istilah sentralisasi merujuk kepada tingkat dimana pengambilan
keputusan dikonsentrasikan pada suatu titik tunggal di dalam organisasi.
Konsentrasi yang tinggi menyatakan adanya spesialisasi yang tinggi, sedangkan
konsentrasi yang rendah menunjukkan adanya desentralisasi. Tingkat kontrol yang
dimiliki seseorang dalam seluruh proses pengambilan keputusan dapat digunakan
sebagai sebuah ukuran mengenai sentralisasi. Kelima langkah dalam proses
pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: mengumpulkan informasi untuk
diteruskan kepada pengambil keputusan mengenai apa yang dapat dilakukan;
memproses dan menginterpretasikan informasi tersebut untuk memberi saran kepada
pembuat keputusan mengenai apa yang harus dilakukan; membuat pilihan mengenai
apa yang hendak dilakukan; memberi wewenang kepada orang lain mengenai apa yang
hendak dilakukan; dan
2.
Departementalisasi
Pengertian
Departementalisasi adalah proses penentuan cara bagaimana kegiatan yang
dikelompokkan. Beberapa bentuk departementalisasi sebagai berikut :
1.
Fungsi
2.
Produk atau jasa
3.
Wilayah
4.
Langganan
5.
Proses atau peralatan
6. Waktu
7.
Pelayanan
8. Alpa
– numeral
9.
Proyek atau matriks
Departementalisasi
fungsional mengelompokkan fungsi – fungsi yang sama atau kegiatan – kegiatan
sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi. Organisasi fungsional ini
barangkali merupakan bentuk yang paling umum dan bentuk dasar
departementalisasi.
kebaikan
utama pendekatan fungsional adalah bahwa pendekatan ini menjaga kekuasaan dan
kedudukan fungsi- funsi utama, menciptakan efisiensi melalui spesialisasi,
memusatkan keahlian organisasi dan memungkinkan pegawai manajemen kepuncak
lebih ketat terhadap fungsi-fungsi.
pendekatan
fungsional mempunyai berbagi kelemahan. struktur fungsional dapat menciptakan
konflik antar fungsi-fungsi, menyebabkan kemacetan-kemacetan pelaksanaan tugas
yang berurutan pada kepentingan tugas-tugasnya, dan menyebabkan para anggota
berpandangan lebih sempit serta kurang inofatif.
Departementalisasi
Divisional :Organisasi Divisional dapat mengikuti pembagian divisi-divisi atas
dasar produk, wilayah (geografis), langganan, dan proses atau peralatan.
Struktur organisasi divisional atas dasar produk. setiap departemen bertanggung
jawab atas suatu produk atau sekumpulan produk yang berhubungan (garis produk).
Divisionalisasi
produk adalah pola logika yang dapat diikuti bila jenis-jenis produk mempunyai
teknologi pemrosesan dan metode-metode pemasaran yang sangat berbeda satu
dengan yang lain dalam organisasi. Sturktur organisasi divisional atas dasar
wilayah. Departementalisasi wilayah , kadang-kadang juga disebut
depertementalisasi daerah , regional atau geografis , adalah pengelompokkan
kegiatan-kegiatan menurut tempat dimana operasi berlokasi atau dimana
satuan-satuan organisasi menjalankan usahanya.
3.
Model-model desain organisasi
Model
desain organisasi dibedakan menjadi 2, yaitu :
Model
Mekanistis
Menekankan
pentingnya produksi dan efisiensi melalui :
•
Penggunaan Ekstensif aturan dan prosedur
•
Kewenangan terpusat
•
Spesialisasai tenaga kerja yang tinggi
Model
Organik
Menekankan
pentingnya produksi dan efisiensi melalui :
•
Penggunaan terbatas aturan dan prosedur
•
Kewenangan terdesentralisasi
•
Derajat spesialisasi yang relatif rendah
4.
Implikasi Manajerial desain dan struktur organisasi
Dapat
menghasilkan struktur atau susunan yang berkualitas didalam suatu organisasi,
karena ada teori yang mengatakan posisi adalah kualitas maka setiap orang yang
menempati posisi yang ia kuasai dalam suatu organisasi akan menghasilkan
kontribusi besar dalam suatu organisasi tersebut. itulah alasan mengapa
diperlukan implikasi manajerial desan dan struktur organisasi
Referensi:
http://jansemcrossby.blogspot.com/2009/05/dimensi-dimensi-struktur-organisasi.html?zx=b6003bee218d014
http://zakyrifat.blogspot.com/2012/09/departementalisasi.html
http://rismala29.blogspot.com/2012/04/model-desain-organisasi.html
Kepemimpinan
Kepemimpinan
adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya
dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan
adalah "melakukanya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan
pada seorang seniman, ahli pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang
ahli diharapkan sebagai bagian dari perannya memberikan pengajaran/instruksi.
A. Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan membicarakan
bagaimana seorang menjadi pemimpin; atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin.
Ada beberapa teori tentang kepemimpinan, diantaranya ialah:
1. Teori Kelebihan, teori ini beranggapan
bahwa seseorang akan menjadi pemimpin apabila ia memiliki kelebihan dari para
pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
mencakup 3 (tiga) hal, yaitu:
a. Kelebihan ratio: ialah kelebihan dalam
menggunakan pikiran, kelebihan dalam pengetahuan tentang hakikat tujuan dari
organisasi, dan kelebihan dalam memiliki pengetahuan tentang cara-cara
menggerakkan organisasi, serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan
tepat. Dengan kelebihan ratio diharapkan seorang pemimpin mampu mengatasi
segala macam persoalan yang dihadapi oleh organisasi. Pimpinan merupakan
tumpuan dari para pengikutnya.
b. Kelebihan rohaniah: berarti seorang
pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada para bawahan.
Seorang pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada dasarnya
pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan, perbuatan, sikap
dan ucapan hendaknya menjadi suri teladan bagi para pengikutnya.
c. Kelebihan badaniah: berarti seorang
pemimpinan hendaknya memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari para
pengikutnya sehingga memungkinkan untuk bertindak dengan cepat. Akan tetapi
masalah kelebihan badaniah ini dapat kita ambil contoh, misalnya kepemimpinan
Panglima Besar Jendral Soedirman, pada jaman revolusi. Meskipun dalam keadaan
sakit, beliau mampu memimpin perang gerilya dan ia sangat disegani. Hal ini
disebabkan oleh karena kewibawaannya dalam memimpin anak buahnya.
Teori
Sifat
Pada dasarnya teori sifat sama
dengan teori kelebihan. Teori ini menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi
pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang lebih daripada yang
dipimpin yang dipimpin. Di samping memiliki tiga macam kelebihan (ratio,
rohaniah, dan badaniah), hendaknya seorang pemimpin mempunyai sifat-sifat yang
positif sehingga para pengikutnya dapat menjadi pengikut yang baik, dan
memberikan dukungan kepada pemimpinnya. Sifat-sifat kepemimpinan yang umum,
misalnya bersifat adil, suka melindungi, penuh percaya diri, penuh inisiatif,
mempunyai daya tarik, energik, persuasif, komunikatif dan kreatif.
Di masa sekarang, di samping harus
memiliki sifat-sifat seperti yang telah diuraikan di atas, pemimpin diharapkan
juga mempunyai sifat mental yang siap membangun. Mukti Ali (saat masih menjabat
sebagai Menteri Agama RI) menyatakan ada ciri-ciri tertentu dari mental yang
siap membangun, yaitu:
1) Suka bekerja keras
2) Sabar menderita dan menghadapi
kesulitan untuk mencapai tujuan
3) Bersifat terbuka, suka menerima ide-ide
baru karena salah satu sifat dari masyarakat ialah selalu berubah.
4) Mau bekerja sama dengan pihak-pihak lain
(perseorangan, badan-badan atau instansi-instansi) yang mempunyai ide-ide baru
dan baik.
5) Berani melakukan eksperimen. Kalau
tidak berani melakukannya maka tidak akan pernah timbul ide-ide baru.
6) Hemat. Tidak boros.
7) Teliti dalam pekerjaan.
8) Jujur.
9) Bersifat mau berbakti atau mempunyai
dedikasi.
10) Suku rukun, antara lain rukun dalam
hubungan antar agama. Kerukunan adalah salah satu prasyarat bagi pembangunan.
Teori
Keturunan
Teori keturunan disebut juga teori
pembawaan lahir. Ada juga yang menyebut teori genetis. Menurut teori keturunan,
seseorang dapat menjadi pemimpin adalah karena keturunan atau warisan. Karena
orangtuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin menggantikkan
orangtuanya. Hal ini berarti, seolah-olah menjadi pemimpin karena ditakdirkan.
Pada zaman penjajahan Belanda, teori ini sering menjadi kenyataan. Misalnya,
apabila ayahnya menjadi bupati, maka anaknya akan menjadi bupati menggantikan
orangtuanya. Pada abad modern dewasa ini, teori ini hanya terdapat pada
negara-negara yang berbentuk monarki (kerajaan), dimana kedudukan sebagai raja
diperoleh karena warisan atau keturunan.
Teori
Kharismatis
Teori kharismatis menyatakan bahwa
seseorang menjadi pemimpin karena orang tersebut mempunyai kharisma (pengaruh)
yang sangat besar. Kharisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam
hal ini terdapat suatu kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran dari Zat
Tunggal, dari Tuhan Yang Esa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan ghaib
(supranatural power). Pemimpin yang bertipe kharismatis biasanya memiliki daya
tarik, kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. Tokoh-tokoh atau para
pemimpin yang mempunyai tipe kharismatis, misalnya: Panglima Besar Jendral
Sordirman, Ir. Sukarno, John F. Kennedy, Nehru, dan lain-lain.
Teori
Bakat
Teori bakat disebut juga teori
ekologis, yang berpendapat bahwa pemimpin itu lahir karena bakatnya. Ia menjadi
pemimpin karena memang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin. Bakat
kepemimpinan itu harus dikembangkan, misalnya dengan memberi kesempatan orang
tersebut menduduki suatu jabatan.
Teori
Sosial
Teori sosial beranggapan bahwa pada
dasarnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat
untuk menjadi pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik
menjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui
pendidikan formal maupun melalui pengalaman praktek. Yang menjadi masalah
adalah apakah orang yang bersangkutan mendapat kesempatan atau tidak. Banyak
orang yang mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi kesempatan tidak
pernah diberikan kepadanya. Sebaliknya, ada sementara pejabat yang sebenarnya
tidak mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi ia mendapat kesempatan
untuk memimpin. Apabila orang itu dalam menjalankan kepemimpinan tidak mau
mempelajari ilmu kepemimpinan atau ilmu manajemen maka ia akan memperoleh
cara-cara mempengaruhi orang lain dan bagaimana teknik-teknik kepemimpinan yang
baik.
B. Tipe-Tipe Kepemimpinan
Yang
dimaksud dengan tipe kepemimpinan adalah gaya atau corak kepemimpinan yang
dibawakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya
seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya dipengaruhi oleh berbagai
faktor, antara lain faktor pendidikan, faktor pengalaman, faktor usia, dan
faktor karakter, tabiat atau sifat yang ada pada diri pemimpin tersebut. Orang
yang ambisius untuk menguasai setiap situasi, apabila menjadi pemimpin akan
bersifat otoriter. Orang yang mempunyai sifat kebapakan, apabila menjadi
pemimpin akan menjalankan kepemimpinan yang bertipe paternalistik. Pemimpin
yang tidak menguasai bidang tugas yang menjadi wewenangnya akan menyerahkan
segala sesuatunya kepada para bawahan, sehingga gaya kepemimpinannya bersifat
laisser faire.
Dari
berbagai leteratur dapat ditemukan berbagai tipe kepemimpinan, anatara lain:
1) Tipe Otokratis
Otokratis
berasal dari kata otokrat, dari kata autos dan kratos. Autos berarti sendiri,
dan kratos berarti kekuatan atau kekuasaan (power). Jadi kepemimpinan otokratis
adalah kepemimpinan yang mendasarkan kepada suatu kekuasaan, kekuatan yang
melekat pada dirinya. Hal ini berarti seseorang menjadi pemimpin karena
mempunyai kekuatan atau kekuasaan (power).
Ciri-ciri
kepemimpinan yang bertipe otokratis antara lain:
a. Mengandalkan kepada kekuatan
atau kekuasaan yang melekat pada dirinya
b. Menganggap dirinya yang
paling berkuasa (kuasa tunggal)
c. Menganggap dirinya paling mengetahui segala
macam persoalan, orang lain dianggap tidak tahu.
d. Keputusan-keputusan yang diambil secara
sepihak, tidak mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau menerima saran dari
bawahan. Ia bahkan tidak memeberi kesempatan kepada bawahan untuk memberikan
saran, pendapat atau ide.
e. Keras dalam mempertahankan prinsip.
f. Jauh dari para bawahan.
g. Lebih menyukai bawahan yang bersikap
“yesman”, “abs” (asal bapak senang).
h. Perintah-perintah diberikan secara paksa.
i. Pengawasan dilakukan secara ketat agar
perintah benar-benar dilaksanakan.
2) Tipe Laisser Faire
Seperti
telah diuraikan diatas, tipe laisser faire pada umumnya dijalankan oleh
pemimpin yang tidak mempunyai keahlian teknis. Tipe laisser mempunya ciri-ciri
antara lain:
a. Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para
bawahan untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan bidang tugas
masing-masing.
b. Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan
sehingga pemimpin tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok.
c. Semua pekerjaan dan tanggungjawab
dilimpahkan kepada bawahan.
d. Tidak mampu mengadakan koordinasi dan
pengawasan yang baik.
e. Tidak mempunyai wibawa sehingga ia tidak
ditakuti apalagi disegani oleh bawahan.
f. Secara praktis pemimpin tidak menjalankan
kepemimpinan sehingga ia hanya merupakan simbol belaka.
Berdasarkan
ciri-ciri di atas, pemimpin dengan tipe laisser faire bukanlah pemimpin dalam
arti sebenarnya. Seorang pemimpin dengan cara apapun diharapkan dapat
menggerakkan bawahan sehingga tujuan oeganisasi dapat tercapai. Cara yang
terbaik ialah mempengaruhi, bukan dengan menakut-nakuti.
3) Tipe Paternalistik
Tipe
peternalistik adalah tipe kepemimpinan yang bersifat kebapakan. Pemimpin
bertindak sebagai seorang bapak yang selalu memberikan perlindungan kepada para
bawahan dalam batas-batas kewajaran.
Ciri-ciri
tipe paternalistik antara lain:
a. Pemimpin bertidak sebagai seorang bapak.
b. Memperlakukan bawahan sebagai orang
yang belum dewasa.
c. Selalu memberikan perlindungan kepada para
bawahan yang kadang-kadang terlalu berlebihan.
d. Keputusan ada ditangan pemimpin, bukan
karena pemimpin ingin bertindak secara otoriter, tetapi karena keinginan dari
pihak pimpinan yang ingin selalu memberi kemudahan kepada bawahan. Oleh karena
itu para bawahan jarang-jarang bahkan sama sekali tidak memberikan saran kepada
pimpinan. Pihak pimpinanpun jarang meminta saran dari bawahan.
e. Karena keputusan ada ditangan pimpinan, maka
pimpinan menganggap dirinya yang paling mengetahui segala macam persoalan.
4) Tipe Militeristis
Tipe
Militeristis tidak hanya terdapat dikalangan militer saja. Tetapi banyak
pemimpin instansi (non-militer) yang menerapkan kepemimpinan dengan tipe
militeristis. Tipe militeristis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Dalam mengadakan komunikasi, lebih banyak
mempergunakan saluran formal.
b. Dalam menggerakkan bawahan lebih banyak
menggunakan sistem komando/perintah, baik perintah itu secara lisan maupun
secara tertulis.
c. Segala sesuatu bersifat formal
d. Disiplin yang tinggi, kadang-kadang bersifat
kaku.
e. Karena segala sesuatunya melalui perintah,
maka komunikasi hanya berlangsung satu arah sehingga bawahan tidak diberi
kesmpatan untuk mengemukakan pendapat.
f. Pimpinan menghendaki bawahan tidak diberi
kesempatan untuk mengemukakan pendapat.
g. Pimpinan menghendaki bawahan patuh terhadap
semua perintah yang diberikannya.
5) Tipe Demokratis
Tipe
demokratis jauh berbeda dengan tipe-tipe yang telah kita bicarakan. Pemimpin
yang bertipe demokratis selalu berada di tengah-tengah para bawahan sehingga ia
terlibat dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
Kepemimpinan
dengan tipe demokratis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan
organisasi.
b. Bersifat terbuka.
c. Bawahan diberi kesempatan untuk memberikan
saran-saran, ide-ide baru
d. Dalam mengambil keputusan lebih mengutamakan
musyawarah untuk mufakat, daripada keputusan yang bersifat sepihak. Apabila
musyawarah untuk mufakat tidak berhasil maka ditempuh dengan jalan lain yang
sesuai dengan alam demokratis, misalnya secara votimg.
e. Menghargai potensi setiap individu.
f. Berlangsung dengan mantap. Kemantapan
kepemimpinan demokratis dapat dilihat dalam hal-hal sebagai berikut:
· Unit-unit organisasi berjalan
lancar, melakukan kegiatan sesuai dengan fungsi masing-masing.
· Otoritas didelegasikan kepada para
bawahan.
· Bawahan merasa senang, aman,
tentram.
· Semangat kerja bawahan tinggi, baik
ada pimpinan maupun tidak ada pimpinan.
g. Pimpinan sering turba (turun ke bawah)
melakukan pembinaan dan penyuluhan, yang sekaligus melakukan pengamatan
terhadap hasil yang telah dicapai, serta kelemahan-kelemahan atau kekurangan
dan kesulitan yang dihadapi para bawahan.
6) Tipe Open Leadership
Sebenarnya
tipe open leadership hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya hanya terletak
dalam hal pengambilan keputusan. Tipe demokratis lebih mengutamakan musyawarah
untuk mufakat sehingga musyawarah dijadikan dasar keputusan. Hasil musyawarah
menjadi keputusan pimpinan. Dalam hal ini berbeda dengan tipe open leadership.
Pimpinan memang memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk memeberikan
saran, tetapi keputusan tetap ada ditangan pimpinan.
C. Syarat-Syarat Kepemimpinan
Syarat-syarat
kepemimpinan dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: (1) persyaratan
kepemimpinan pada umumnya, (2) persyaratan kepemimpinan khusus yang berhubungan
dengan ciri khas masyarakat atau negara, (3) persyaratan kepemimpinan khusus
yang berhubungan dengan jenis kegiatan atau pekerjaan.
1) Persyaratan Kepemimpinan Pada Umumnya
Yang
dimaksud dengan persyaratan kepemimpinan pada umumnya adalah persyaratan
kepemimpinan yang berlaku bagi pemimpin apa saja. Persyaratan kepemimpinan umum
meliputi hal-hal sebagai berikut:
· Sehat jasmaniah maupun rohaniah
(fisik maupun mental)
· Bertanggungjawab dan obyektif dalam
sikap, tindakan dan perbuatan. Adil terhadap yang dipimpin.
· Jujur, yang meliputi :
a. Jujur terhadap diri sendiri,
b. Jujur terhadap atasan,
c. Jujur terhadap bawahan, dan
d. Jujur terhadap sesama pegawai.
· Suka melindungi,
· Semangat untuk mencapai tujuan,
· Cerdas
· Percaya pada diri sendiri,
· Mudah dan cepat dalam mengambil
keputusan,
· Memiliki kecakapan teknis,
· Mempunyai daya tarik,
· Berwibawa.
2) Persyaratan Khusus dalam Hubungannya
dengan Ciri-ciri Khusus Masyarakat
Ciri-ciri
khusus masyarakat Indonesia adalah yang berhubungan dengan dasar negara, yaitu
Pancasila. Hal ini berarti kepemimpinan Indonesia harus berlandaskan kepada
falsafah Pancasila. Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila.
Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila berisikan azas-azas sebagai
berikut:
· Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu
kesadaran akan beragama dan beriman yang teguh.
· Hing Ngarsa Sung Tulada, Hing Madya
Mangun Karsa, Tutwuri Handayani, yang artinya:
o Hing Ngarsa (di depan), Tulada (teladan,
contoh), yang berarti seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakat harus mampu
memberi contoh, memberi teladan yang baik kepada para bawahan/pengikut.
o Hing Madya (di tengah-tengah), Mangun Karsa
(membangun semangat). Seorang pemimpin harus senantiasa ada ditengah-tengah
para pengikutnya dan mampu membangkitkan semangat para bawahan.
o Tut Wuri (dari belakang), Handayani
(memberikan dorongan, memberikan pengaruh), yang berarti seorang pemimpin dari
belakang ia harus mampu memberikan dorongan, memberikan pengaruh yang baik
kepada para bawahan.
Falsafah
tersebut memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak harus senantiasa ada
di belakang terus-menerus, tetapi juga di depan, dan ada ditengah-tengah para
bawahan/masyarakat. Dengan cara demikian maka pemimpin benar-benar menyatu
dengan para bawahan/pengikut dalam keadaan atau situasi yang bagaimanapun.
· Waspada Purbawisesa. Artinya:
waspada (berawas-awas dan berjaga, tidak lengah), dan Purbawisesa (kekuasaan
sepenuh-penuhnya). Jadi seorang pemimpin dalam menjalankan kekuasaannya harus
selalu waspada, hati-hati, mau dan mampu mengoreksi diri sendiri dan orang lain
(bawahan).
· Ambeg Parameta. Mendahulukan mana
yang dianggap lebih penting. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus
pandai memilih dan menetapkan berbagai macam masalah, dan dari sekian masalah
itu mana yang harus didahulukan untuk mendapat penyelesaian.
· Prasaja. Artinya sederhana. Hal ini
berarti bahwa seorang pemimpin harus bersifat sederhana, tidak
berlebihan-lebihan, sederhana dalam tingkah laku.
· Satya, yang artinya setia atau
loyal. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus loyal kepada bawahan,
pimpinan dengan pimpinan, atasan yang bersangkutan, dan kepada organisasi yang
dipimpinnya. Loyal kepada organisasi yang dipimpin berarti harus berusaha untuk
mengembangkan, memajukan, mengamankan dari segala macam rongrongan yang datang
dari segenap penjuru, baik yang dilakukan perorangan maupun kelompok
· Hemat, berarti tidak boros. Pemimpin
harus mempergunakan dana yang tersedia seefesien dan seefektif mungkin. Ia
harus mampu membatasi penggunaan dana sesuai dengan kebutuhan yang benar-benar
penting.
· Terbuka, yang berarti pemimpin harus
bersedia menerima saran atau kritik yang membangun dari semua pihak. Ia juga
harus berani mempertanggungjawabkan semua tindakannya secara terbuka.
· Penerusan, yang berarti seorang
pemimpin harus mempunyai kesadaraan, kerelaan, dan kemauan untuk menyerahkan
tugas dan tanggungjawab kepasa generasi penerusan untuk melanjutkan dan
mewujudkan cita-cita yang ditentukan. Untuk itu seorang pemimpin harus mampu
menyiapkan dan menciptakan kader-kader penerus berkualitas dan dapat
diandalkan.
3) Persyaratan Khusus yang Berhubungan
dengan Jenis Kegiatan atau Pekerjaan
Menurut
jenis kegiatan atau pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab pemimpin,
kepemimpinan dapat dibedakan menjadi kepemimpinan lini (line leadership), dan
kepemimpinan staf (staf leadership). Persyaratan bagi kepemimpinan lini berbeda
dengan persyaratan kepemimpinan staf karena fungsi lini berbeda dengan fungsi
staf. Meskipun demikian ada beberapa persamaan persyaratan yang harus dimiliki
oleh kedua jenis pimpinan itu, anatara lain:
· Bersifat ramah tamah, dalam tutur
kata, sikap dan perbuatan.
· Mempunyai intelegensi yang tinggi.
· Sabar, ulet dan tekun dalam menghadapi
masalah.
· Cepat dan tepat dalam mengambil
keputusan.
· Jujur.
· Adil, dan
· Berwibawa.
Persyaratan
khusus bagi kepemimpinan staf akan di jelaskan dalam uraian tentang kepemimpinan
staf.
D. Teknik Kepemimpinan
Yang
dimaksud dengan teknik kepemimpinan ialah dengan cara bagaimana seorang
pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinannya.
Teknik
kepemimpinan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu teknik kepemimpinan secara
umum, dan teknik kepemimpinan khusus. Teknik kepemimpinan secara umum adalah
teknik kepemimpinan yang berlaku bagi setiap pemimpin, sedang teknik
kepemimpinan khusus adalah teknik kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang
pemimpin yang memimpin suatu bidang tertentu. Teknik kepemimpinan khusus akan
dibicarakan lebih lanjut dalam uraian tentang kepemimpinan staf.
Teknik
kepemimpinan pada umumnya terdiri dari: (1) teknik kepengikutan, (2) teknik
human relationship, (3) teknik pemberian teladan, semangat dan dorongan.
1) Teknik Kepengikutan
Teknik
kepengikutan adalah teknik untuk membuat orang-orang suka mengikuti apa yang
menjadi kehendak si pemimpin. Ada beberapa sebab mengapa seseorang mau menjadi
pengikut, yaitu:
· Kepengikutan karena peraturan/hukum
yang berlaku.
· Kepengikutan karena agama.
· Kepengikutan karena tradisi atau
naluri, dan
· Kepengikutan karena rasio.
Teknik kepengikutan dapat
dijalankan dengan penerangan dan propaganda.
a. Teknik Penerangan ialah dengan cara
memberikan fakta-fakta yang objektif. Fakta disebut objektif bila fakta-fakta
itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, jelas sumbernya, dan tidak
bermaksud mengelabuhi para pengikut untuk menutupi kesalahan pemimpin. Supaya
fakta itu jelas dan berguna maka fakta-fakta itu harus disampaikan tepat pada
waktunya dan disajikan dalam bentuk yang dapat dengan mudah dan cepat
dimengerti. Penyajian fakta-fakta yang demikian diharapkan akan dapat
menimbulkan kesadaraan dan kepuasaan di kalangan para bawahan sehingga mereka
kemudian dengan sukarela mengikuti.
b. Teknik Propaganda. Teknik propaganda
berbeda dengan teknik penerangan. Dalam teknik penerangan pemimpin berusaha
untuk memberika pengertian dan kesadaraan kepada para bawahan sehingga mereka
menjadi pengikut berdasarkan atas kesadaraan.
Dalam
propaganda, seseorang menjadi pengikut karena merasa terpaksa dan takut.
Propaganda merupakan suatu cara mengubah pikiran orang lain supaya menjadi
pengikut dengan cara-cara yang bersifat negatif, misalnya dengan intimidasi,
ancaman, menakut-nakuti, dan dengan paksaan.
2) Teknik Human Relationship
Human
relationship merupakan hubungan kemanusiaan yang bertujuan untuk mendapatkan
kepuasan, baik kepuasan jasmaniah. Karena human relations bertujuan untuk
mendapatkan kepuasan, teknik human relations dapat dilakukan dengan memberikan
berbagai macam kebutuhan kepada para bawahan, baik kepuasan psikologis, maupun
kepuasan jasmaniah.
3) Teknik Memberi Teladan, Semangat dan
Dorongan
Dengan
teknik ini seorang pemimpin menempatkan diri sebagai pemberi teladan, pemberi
semangat, dan sebagai pemberi dorongan. Cara ini dapat dilaksanakan apabila
pemimpin berpegangan kepada filsafat: Hing ngarsa sung tulada, hing madya
mangun karsa, tut wuri handayani. Dengan cara demikian diharapkan dapat
memberikan pengertian dan kesadaraan kepada para bawahan sehingga mereka mau
dan suka mengikuti apa yang menjadi kehendak pemimpin.
Sumber ;
Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
1.
Definisi dan Dasar pengambilan keputusan
Pengambilan
keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental
atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara
beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu
menghasilkan satu pilihan final. Keluarannya bisa berupa suatu tindakan (aksi)
atau suatu opini terhadap pilihan.
Dasar
Pengambilan Keputusan :
1.
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi yaitu Pengambilan keputusan yang
berdasarkan perasaan hati yang seringkali bersifat subyektif. Pengambilan
keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat, untuk
masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan
yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan sepihak dan bersifat perasaan.
Sifat
subjektif dari keputusuan intuitif ini memberikan keuntungan, yaitu :
a.
Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
b.
Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan
2.
Pengambilan Keputusan Rasional yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat
berdasarkan pertimbangan rasional berfikir dan lebih bersifat objektif.
3.
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman yaitu Pengambilan keputusan yang
berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh sehingga dapat digunakan untuk
memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah
penyelesaiannya.
4.
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat
berdasarkan data empiris dan fakta nyata sehingga dapat memberikan keputusan
yang valid sehingga tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat
lebih tinggi.
5.
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang yaitu pengambilan keputusan yang
berdasarkan atas wewenang/kedudukan yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi
pemimpin.
2. Jenis
– jenis keputusan Organisasi
Jenis
Keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu
yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi
harus dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana
keputusan tersebut difokuskan.
Secara
garis besar keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang
tidak rutin. Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan
berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk
mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada
saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Dalam mengambil
keputusan, baik yang bersifat rutin maupun tidak, ada dua metode yang
digunakan. Metode pertama adalah metode tradisional, dimana pengambilan
keputusan lebih berdasarkan pada intuisi dan kebiasaan. Metode yang kedua
adalah metode modern, dimana pengambilan keputusan didasarkan pada perhitungan
matematis dan penggunaan instrumen yang bersifat modern, seperti komputer dan
perhitungan statistik.
Pengambilan
keputusan berdasrkan metode ada 2, yaitu tradisional dan modern
Pengambilan
keputusan secara garis besar ada 2, yaitu rutin dan tidak rutin.
3.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
1.Posisi/Kedudukan
- Dalam
kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseorang dapat dilihat dalam
hal berikut.
- Letak
posisi; dalam hal ini apakah is sebagai pembuat keputusan (decision maker),
penentu keputusan (decision taker)
ataukah staf (staffer).
-
Tingkatan posisi; dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan,
organisasional, operasional, teknis.
2.Masalah
Masalah
atau problem adalah apa yang menjadi peng-halang untuk tercapainya tujuan, yang
merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan atau
dikehendaki dan harus diselesaikan.
3.
Situasi
Situasi
adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama lain,
dan yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa
yang hendak kita perbuat.
4.
Kondisi
Kondisi
adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya
gerak, daya ber-buat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor-faktor tersebut
merupakan sumber daya-sumber daya.
5.
Tujuan
Tujuan
yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan
organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/ telah ditentukan.
Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau
objective.
4.
Implikasi manajerial
Implikasi
menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti sebab oleh sebab itu implikasi
manajerial di bidang pengambilan keputusan akan menghasilkan sesuatu yang
mengagumkan karena semua pengamblan keputusan harus didasari dengan pemikiran
yang matang ditambah dengan manajemen pengambilan keputusan akan menghasilkan
keputusan yang lebih matang dan berguna untuk kedepannya.
Referensi
:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengambilan_keputusan
http://teddywirawan.wordpress.com/2012/03/02/pengambilan-keputusan-dasar-dan-kekuatan/
http://sellyinthewords.blogspot.com/2011/04/membuat-keputusan-dalam-organisasi.html
Mengembangkan Kemampuan Mahasiswa Dalam Komunikasi
1.
Pengertian dan Arti Penting Komunikasi
Kata
atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis
atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan
ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna
‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan
untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Jadi,
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari
satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan
atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.
Komunikasi
dalam suatu organisasi sangat penting supaya tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian
informasi antar anggota suatu organisasi agar tercapainya tujuan tertentu.
Jika
terjadi kesalahpahaman dalam penyampaian komunikasi dalam organisasi dapat
menyebabkan masalah, contohnya :
1) Dalam
Lingkup Perusahaan
Seorang bawahan yang tidak dapat membuat
tugas secara deadline dikarenakan adanya halangan namun bawahan merasa takut
untuk menyampaikan alasan kepada atasannya, terjadilah kesalahpahaman karena
tidak adanya komunikasi yang baik terhadap atasannya.
2) Dalam
Lingkup Sekolah
Terjadinya tawuran antar pelajar
dikarenakan adanya saling menguasai suatu wilayah, tidak adanya komunikasi yang
baik antar pelajar dan kebiasaan tawuran yang disebabkan adu kekuatan.
2. Jenis
dan Proses Komunikasi
Jenis
Jenis Komunikasi :
1. Komunikasi lisan
komunikasi
lisan secara langsung adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau
lebih yang saling bertatap muka secara langsung dan tidak ada jarak atau
peralatan yang membatasi mereka. lisan ini terjadi pada saat dua orang atau
lebih saling berbicara/ berdialog, pada saat wawancara, rapat, berpidato.
komunikasi
lisan yang tidak langsung adalah komunikasi yang dilakukan dengan perantara
alat seperti telepon, handphone, VoIP, dan lain sebagainya karena adanya jarak
dengan si pembicara dengan lawan bicara.
2. Komunikasi tulisan
komunikasi
tulisan adalah komunikasi yang di lakukan dengan perantaraan tulisan tanpa
adanya pembicaraan secara langsung dengan menggunakan bahasa yang singkat,
jelas, dan dapat dimengerti oleh penerima.Komunikasi tulisan dapat berupa
surat-menyurat, sms, surat elektronik, dan lain sebagainya.
komunikasi
tulisan juga dapat melalui naskah-naskah yang menyampaikan informasi untuk
masyarakat umum dengan isi naskah yang kompleks dan lengkap seperti surat
kabar, majalah, buku-buku. dan foto pun dapat menyampaikan suatu komunikasi
secara lisan namun tanpa kata-kata. Begitu pula dengan spanduk, iklan, dan lain
sebagainya.
Tahapan
proses komunikasi adalah sebagai berikut :
Penginterprestasian,
hal yang diinterpretasikan adalah motif komunikasi, terjadi dalam diri
komunikator. Artinya, proses komunikasi tahap pertama bermula sejak motif
komunikasi muncul hingga akal budi komunikator berhasil menginterpretasikan apa
yang ia pikir dan rasakan ke dalam pesan (masih abstrak). Proses penerjemahan
motif komunikasi ke dalam pesan disebut interpreting.
Penyandian,
pada tahap ini masih ada dalam komunikator dari pesan yang bersifat abstrak
berhasil diwujudkan oleh akal budi manusia ke dalam lambang komunikasi. Tahap
ini disebut encoding, akal budi manusia berfungsi sebagai encorder, alat
penyandi: merubah pesan abstrak menjadi konkret.
Pengiriman,
proses ini terjadi ketika komunikator melakukan tindakan komunikasi, mengirim
lambang komunikasi dengan peralatan jasmaniah yang disebut transmitter, alat
pengirim pesan.
Perjalanan,
pada tahapan ini terjadi antara komunikator dan komunikan, sejak pesan dikirim
hingga pesan diterima oleh komunikan.
Penerimaan,
pada tahapan ini ditandai dengan diterimanya lambang komunikasi melalui
peralatan jasmaniah komunikan.
Penyandian
Balik, pada tahap ini terjadi pada diri komunikan sejak lambang komunikasi
diterima melalui peralatan yang berfungsi sebagai receiver hingga akal budinya
berhasil menguraikannya (decoding).
Penginterpretasian,
pada ahap ini terjadi pada komunikan, sejak lambang komunikasi berhasil diurai
kan dalam bentuk pesan.
3.
Komunikasi Efektif
Lima
Pondasi Membangun Komunikasi Efektif
1.
Berusaha benar2 mengerti orang lain
(emphatetic
communication)
2.
Memenuhi komitmen / janji
3. Menjelaskan
harapan
4.
Meminta maaf dg tulus ketika membuat kesalahan
5.
Memperlihatkan integritas pribadi
Dalam
proses komunikasi untuk mendapatkan hasil yang efektif perlu diperhatikan
unsur2 dari komunikasi, yaitu:
1.
Komunikator (pandai menggunakan bahasa, intonasi, simbol dan mimik yang menarik
simpati dan empati dari komunikannya)
2. Pesan
(cara penyampaian, isi pesan sesuai dg kebutuhan dan diminati oleh komunikan)
3. Media
(sesuai dg pesan yg ingin disampaikan dan sesuai dengan kebutuhan komunikan)
4.
Implikasi Manajerial
Menurut
kamus besar Bahasa Indonesia, kata Implikasi berarti akibat. Kata Implikasi
sendiri dapat merujuk ke beberapa aspek yaitu salah satunya yang dibahas saat
ini adalah manajerial atau manajemen
Dalam
manajemen terdapat 2 implikasi yaitu :
1.
Implikasi prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi,
perencanaan kerja dan formulasi kebijakan
2.
implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan
tindakan
Referensi
:
http://aardiansyah.blogspot.com/2012/11/pengertian-komunikasi-defenisi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_definisi_komunikasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_komunikasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Implikasi
Bekerja Dalam Team atau Kelompok
1.
Pengertian dan karakteristik kelompok
Komunikasi
kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu
kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya
(Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan
komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau
lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga
diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat
karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi
komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap
muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan
kelompok.
KARAKTERISTIK
KELOMPOK
A.
Kebutuhan interpersonal
William
C. Schultz (1966) merumuskan Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relations
Orientatation), menurutnya orang menjadi anggota kelompok karena didorong oleh
tiga kebutuhan intepersonal sebagai berikut:
1) Ingin
masuk menjadi bagian kelompok (inclusion).
2) Ingin
mengendalikan orang lain dalam tatanan hierakis (control).
3) Ingin
memperoleh keakraban emosional dari anggota kelompok yang lain.
B.
Peranan
Seperti
tindak komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu
penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang lebih baik, atau
hanya menampilkan kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat
kemajuan kelompok). Beal, Bohlen, dan audabaugh (dalam Rakhmat, 2004: 171)
meyakini peranan-peranan anggota-anggota kelompok terkategorikan sebagai
berikut:
1) Peranan Tugas Kelompok. Tugas kelompok
adalah memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru. Peranan tugas
berhubungan dengan upaya memudahkan dan mengkoordinasi kegiatan yang menunjang
tercapainya tujuan kelompok.
2) Peranan Pemiliharaan Kelompok.
Pemeliharaan kelompok berkenaan dengan usaha-usaha untuk memelihara emosional
anggota-anggota kelompok.
3) Peranan individual, berkenaan dengan usaha
anggota kelompok untuk memuaskan kebutuhan individual yang tidak relevan
dengantugas kelompok
2.
Tahapan pembentukan kelompok
Perkembangan
sebuah kelompok selalu berbeda satu dengan yang lainnya. Namun demikian,
terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk membentuk sebuah kelompok.
Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam pembentukan kelompok.
Forming.
Forming adalah tahap orang berkumpul dan membentuk sebuah kelompok
Informing.
Informing merupakan tahap dimana kelompok yang baru terbentuk tersebut diberi
penjelasan tentang tujuan dari kegiatan yang akan diselenggarakan.
Storming.
Pada tahap ini, pembangunan peran diantara masing-masing peserta mulai
terbentuk. Storming merupakan fase yang sangat penting dalam dinamika kelompok,
karena pada tahap ini akan terjadi tarik menarik, uji coba, bahkan konflik.
Norming.
Tahapan ini merupakan tahap stabilisasi dimana aturan, ritual, dan prosedur
telah ditetapkan dan diterima oleh seluruh peserta.
Mourning.
Mourning merupakan tahap akhir dari proses pembentukan sebuah kelompok. Pada
tahapan ini, seluruh tugas telah selesai dikerjaan dan tujuan utama pembentukan
kelompok sudah terpenuhi.
Transforming.
Pada tahapan ini, tim telah menjadi dinamis karena pembentukan kelompok sudah
terjadi dan mulai ada perubahan baik di masing-masing peserta maupun pada
kelompok secara keseluruhan.
3.
kekuatan Team Work
Teamwork
atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok yang bertujuan untuk
mencapai target yang sudah disepakati sebelumnya. Harus disadari bahwa teamwork
merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencpai
tujuan bersama. Tujuan tersebut bukanlah tujuan pribadi, bukan tujuan ketua
tim, bukan pula tujuan dari pribadi paling populer di tim.
Dalam
sebuah tim yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling bergandeng-tangan
menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan
atau tidak ahli dalam pekerjaan A, namun dapat dikerjakan oleh anggota tim
lainnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu
tujuan bersama.
Saling
mengerti dan mendukung satu sama lain merupakan kunci kesuksesan dari teamwork.
Jangan pernah mengabaikan pengertian dan dukungan ini. Meskipun terjadi
perselisihan antar pribadi, namun dalam tim harus segera menyingkirkannya
terlebih dahulu. Bila tidak kehidupan dalam tim jelas akan terganggu. Bahkan
dalam satu tim bisa jadi berasal dari latar belakang divisi yang berbeda yang
terkadang menyimpan pula perselisihan. Makanya sangat penting untuk menyadari
bahwa kebersamaan sebagai anggota tim di atas segalanya.
Berikut
poin-poin teamwork yang baik:
Teamwork
adalah kerjasama dlm tim yang biasanya dibentuk dari beragam divisi dan
kepentingan.
Sama-sama
bekerja bukanlah teamwork, itu adalah kerja individual.
Filosofi
teamwork: ‘saya mengerjakan apa yang Anda tidak bisa dan Anda mengerjakan apa
yang saya tidak bisa.
Ketika
berada dalam teamwork, segala ego pribadi, sektoral, deparmen harus
disingkirkan.
Dalam
teamwork yang dikejar untuk dicapai adalah target bersama, bukan individual.
Keragaman
individu dalam teamwork memang sebuah nilai plus namun bisa menjadi minus jika
tidak ada saling pengertian.
Saling
pengertian terhadap karakter masing-masing anggota team akan menjadi modal
sukses bersama.
Jika
setiap orang bekerjasama via bidang masing-masing, target korporasi pasti akan
segera terealisasi.
Individu
yang egois mengejar target pribadi akan menghambat keberhasilan team. Bayangkan
jika si A mengejar target A & si B mengejar target B, lalu target bersama bermuara
kemana?
Keahlian
masing-masing sungguh menjadi anugerah dalam teamwork yang akan mempercepat
proses pencapaian target.
Kendalikan
ego dan emosi saat bersama agar pergesekan tidak berujung pada pemboikotan
kerjasama.
Dengan
pemahaman yang tinggi soal karakter individu dalam team, realisasi target tidak
perlu waktu yang lama.
Ingatlah
selalu bahwa: ‘teamwork makes the dream work’.
4.
Implikasi Manajerial
Implikasi
menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti sebab oleh sebab itu implikasi
manajerial di bidang team atau kelompok mengakibatkan banyaknya keuntungan
yaitu kegiatan kelompok yang dapat lebih direncakan karena ada proses
management team.
Referensi
http://adibuluk.blogspot.com/2010/10/karakteristik-kelompok.html
http://adiprakosa.blogspot.com/2007/12/pengertian-komunikasi-kelompok.html
http://psikologikelompok.blogspot.com/2010/10/tahapan-pembentukan-kelompok.html
http://www.bisnisindeks.com/teamwork-bukan-sama-sama-kerja/
Langganan:
Postingan (Atom)






