Non Ilmiah (Fiksi) adalah karangan ilmu pengetahuan
yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang
baik dan benar. Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang
berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak
boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik,
klimaks, setting dsb.Bentuk karangan non ilmiah yaitu, dongeng, cerpen, novel,
roman, anekdot, hikayat, cerber, puisi, dan naskah drama.
Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang
cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena
orangtuanya sudah meninggal dunia.
Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya “Cinderela”. Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. “Nama yang cocok buatmu !” kata mereka.
Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. “Asyik! kita akan pergi dan berdandan secantikcantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira”, kata mereka.
Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya “Cinderela”. Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. “Nama yang cocok buatmu !” kata mereka.
Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. “Asyik! kita akan pergi dan berdandan secantikcantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira”, kata mereka.
Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela
mulai berdandan dengan gembira. Cinderela sangat sedih sebab ia tidak
diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. “Baju pun kau tak
punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?”, kata kakak Cinderela.
Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras kerasnya karena hatinya sangat kesal. “Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi..” Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. “Cinderela, berhentilah menangis.” Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. “Cinderela bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal.” Setelah semuanya dikumpulkan
Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. “Sim salabim!” sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadalkadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah.
Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras kerasnya karena hatinya sangat kesal. “Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi..” Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. “Cinderela, berhentilah menangis.” Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. “Cinderela bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal.” Setelah semuanya dikumpulkan
Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. “Sim salabim!” sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadalkadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah.
Karena gembiranya, Cinderela mulai menari
berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata,
“Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas
malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam. “Ya
Nek. Terimakasih,” jawab Cinderela. Kereta kuda emas segera berangkat membawa
Cinderela menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula
istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela.
Mereka
sangat kagum dengan kecantikan Cinderela. “Cantiknya putri itu! Putri dari
negara mana ya ?” tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri
Cinderela. “Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?” katanya.
“Ya!,” kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka
menari berdua dalam irama yang pelan.
Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ
tidak menyangka kalau putri yang cantik itu adalah Cinderela.
Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. “Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini,” kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. “Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,”. Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana.
Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. “Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini,” kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. “Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,”. Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana.
Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi
Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar
Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah anak tangga, ada
sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. “Aku
akan mencarimu,” katanya bertekad dalam hati. Meskipun Cinderela kembali
menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.
Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran
datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri
untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok.
Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela.
“Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu
kaca ini,” kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut,
tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke
sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderela. “Hai kamu,
cobalah sepatu ini,” katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi
marah,” tidak akan cocok dengan anak ini!”. Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. “Ah! Andalah Putri itu,” seru pengawal gembira. “Cinderela, selamat..,” Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. “Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.,” katanya.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. “Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali”, kata sang peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya.
marah,” tidak akan cocok dengan anak ini!”. Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. “Ah! Andalah Putri itu,” seru pengawal gembira. “Cinderela, selamat..,” Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. “Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.,” katanya.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. “Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali”, kata sang peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya.
Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil
tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup
berbahagia.
Sumber :







0 komentar:
Posting Komentar